header image
 

Me And My Personality

  1. Suka novel roman, biography atau apapun yang bersinggungan dan menyentuh ke khasan suatu Negara

Misalnya,

Novel Barbara Cartland identik dengan kebudayaan Inggris atau Perancis, Duke, Baron, Prince atau Marque

Novelnya Alfred Hitchcock yang Amerika banget

Novelnya Dee yang bikin kita melanglang buana ke Thailand, Kamboja atau Vietnam

  1. Suka dandanan Smokey Eyes dan Nude. Mata kelihatannya jadi gimanaaa githu, trus bibir jadi gimaaa githu. Hihihi…..
  2. Suka banget sama warna coklat dan hijau
  3. Paling nggak demen dengan sesuatu yang terlalu girly.
  4. Pakai sepatu ballerina atau flat shoes tuh paling nyaman. Buat tampilan keren pakai Wedges atau Peep Shoes juga OK banget…
  5. Jangan tawarin aku telur setengah mateng, aku nggak suka. Rasanya aneh dan bikin eneg.
  6. Paling nggak masuk akal nonton film yang ada monster dan makhluk-makhluk anehnya. Apaan kali…!! Mending nonton film “Terowongan Casablanca” atau “Pocong”. Tapi kalau bisa milih, mending tidur daripada nonton begituan.
  7. Doyan sambel, kalau ada yang nggak doyan. Menurutku dia nggak pemberani. Keluargaku nggak bisa hidup tanpa sambel. Haha…Kalau nggak pedas langsung protes. Wah..Belum tahu nguleknya aja penuh perjuangan…J
  8. Liburan di pantai tuh paling seru. Bisa jogging di bibir pantai, bikin istana pasir, nyari kulit kerang cantik, menyuport bayi penyu mencapai laut, bikin api unggun dan bakar2 ikan (nyummy..) atau langsung aja nyemplung ke lautnya. Repot amat…Hehe…Thank God my family gonna live near the beach..
  9. Pakai jaket slain trendi bisa mengoreksi penampilan. So sporty..!!
  10. Pernah nggak seorang bayi mengira kamu Ibunya?? Astaga aku pernah, pas SMA dulu. Bayi cowok umur 5 bulan itu nangis-nangis minta gendong padaku. Emang pas itu tampangku mirip Ibu-ibu ya??? Waduhh…Untung Ibunya yang asli langsung datang trus bayinya kelihatan bingung. Haa…
  11. Pulang malam itu seru. Tapi jangan malam-malam banget. Sepanjang jalan bisa ngeliatin lampu-lampu kota apalagi kalo diiringin lagu-lagu soft. Capek seharian rasanya ilang. Kereennnn…
  12. Bubur hitam itu nyummy banget. Terus es krim wangi coklat, vanilla, kopi, blueberry. Love it verymuch…
  13. Koleksi kaset dari band siapa yang paling lengkap? The answer is Backstreet Boys. “I don’t care who u are, where u’r from, don’t care what ur say, as long as u love me baby..”
  14. Kalo tidur selalu pakai selimut, gak peduli cuaca lagi panas…
  15. Punya kebiasaan baca majalah dari belakangnya dulu. What’s wrong?
  16. Mengoleksi barang-barang pas bayi dulu. Kaos kaki, baju-baju dan lampin buatan nyokap. Wahhh….
  17. Komik pertama yang dibaca, DORAEMON…
  18. Berdasarkan test personality, punya tipe Flegmatik Melankolik. So Sencitive..
  19. Suka banget sama lagu, If that’s OK with u..Shayne Ward. It makes me dance.. Hehe…
  20. Suara kresek-kresek kertas itu lullaby yang bikin aku cepat tidur lho. So, if u wanna hipnotice me. Just try it..!! Haha…

MENCARI NASIONALISME DI BALIK TUMPUKAN JERAMI

Bukan Sekedar Simbol

Waktu saya kecil, saya sering heran dengan symbol-simbol yang bertebaran di sekitar kita. Bendera merah putih, misalnya. Saya bingung, kenapa orang-orang begitu khidmat menghormat pada selembar kain? Sampai saya lihat guru sejarah saya, matanya berkaca-kaca. Saya ingat beliau pernah bercerita tentang drama penyobekan bendera merah putih biru di Hotel Yamato. Namun, saat itu (namanya juga anak-anak) saya nggak ngeh betapa berartinya kejadian itu, saya tidak merasakan apa-apa. Baru setelah dewasa, saya mencari info lebih lanjut tentang peristiwa tersebut. Cerita yang berhasil saya dapatkan dari berbagai sumber ini ternyata mampu membuat saya merinding dan memaknai lebih dalam arti sehelai kain itu.

Usai kemerdekaan, 17 Agustus 1945, perjuangan belum usai. Belanda yang merasa bagian dari sekutu merasa berhak untuk kembali menindas bangsa Indonesia. Karena itu, gerakan nasionalisme semakin dibakar dan diseru disana-sini. Maklumat pemerintah menetapkan mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh Indonesia, termasuk di Surabaya. Merah Putih berkibar dimana-mana, mulai dari kantor Karasidenan hingga lapangan Tambaksari penuh dengan bendera merah putih. Wajarlah bila kemudian Arek-arek Suroboyo merasa berang ketika melihat bendera Belanda berwarna merah-putih-biru dikibarkan di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato. Ternyata, malam sebelumnya (18 September 1945), W. V. Ch Ploegman dan teman-temannya sesama orang Belanda sengaja mengibarkannya.

Pejuang Kebanggaan Indonesia, Sudirman, yang saat itu menjabat sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI datang ke Hotel Yamato, menerobos gerombolan massa yang marah. Usahanya melobi Ploegman untuk menurunkan bendera gagal. Malah dijawab dengan kasar, “Tentara sekutu sudah menang, dan karena kami, Belanda adalah anggota sekutu, maka pemerintah Belanda berhak menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Itu tidak kami akui!” Ploegman mengangkat revolvernya, mengancam Sudirman untuk segera pergi.

Sidik dan Hariyono yang saat itu menemani Sudirman melawan. Sidik menendang revolver yang lalu meletus tapi tidak mengenai siapa-siapa. Sementara Hariyono membawa Sudirman keluar, Sidik bergulat dengan Ploegman dan berhasil menghabisinya. Tak lama kemudian beberapa serdadu Belanda muncul dan menyabetkan pedang panjangnya ke Sidik. Ia tersungkur dan gugur sebagai pahlawan bangsa.

Perkelahian di dalam hotel tak terhindarkan lagi. Sebagian rakyat berdesakan naik ke atas hotel, ingin menurunkan bendera Belanda. Hariyona dan Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian biru bendera tersebut, lalu menaikkan benderanya kembali. Kali ini, yang berkibar adalah bendera kita, bendera anda dan saya. Merah putih. Saya membayangkan gegap gempitanya saat itu. Ketika rakyat yang melihat dari bawah meneriakkan kata “Merdeka” sekuat-kuatnya. Sungguh bayaran yang setimpal bagi harga diri bangsa kita. Ternyata kemerdekaan itu mahal. Sangat mahal. Bendera yang dulunya saya anggap sekedar symbol itu, ternyata memiliki latar belakang sejarah yang begitu hebatnya…

Andai saja saya dulu punya semangat nasonalisme yang kuat, saya tidak akan menyesal ketika “hanya untuk pelantikan Bantara saja” harus rela melek semalam suntuk, direndam di kubangan kerbau, merayap di tanah yang penuh cadas, disirami berember-ember air dingin, ngemut buah mahoni, dijemur di lapangan dengan sinar matahari jam 12 teng, minum air garam 70%, jalan bebek, mencium tanah dan dengan embel-embel cinta tanah air mengunyah rumput dan bernyanyi lagu “Syukur”. Walah-walah….Toh itu belum apa-apanya dibandingkan dengan ditembak mati demi Merah Putih. Yupz…

MERDEKA…!!!!

teNtaNg aKu

Bersama Hujan

 

Bersama hujan, rasaku
singgah…

Menetes satu demi
satu..

 

Mungkin lewat dedaunan
yang bergoyang kemana arah angin pergi

Menyentuh tanah…

Bersatu dengan air…

Lalu mengalir kemana
rasaku ingin… 

 

 

Lelaki Itu Sendiri 

Lelaki itu sendiri

Karena gadisnya pergi

Lalu harapan, ingatan, rindu..

Sunyi…

 

 Sayang kau
dimana..?

 Jeritnya
panjang pada malam

 Menyeret
beku getar daun-daun

Membisu belaian angin

 

 Lelaki
itu sendiri

 Hilang
semua hilang

 Hatinya
kelu tangisi garis-garis samar

 Pada
langit yang haru menatapnya

Dan bawa
gadisnya pulang

 

 Created,
19 Oct ‘05

 

 

 

Malam yang kelam dan
sepi terasa sangat menakutkan…

Tapi jika malam
bertambah kelam..

Di saat itu kita dapat
melihat bintang

 

 (EMERSON
& ME)

 

  Kemanusiaanku
Tercekat

 

Kemanusiaanku tercekat

Kala warna dunia begitu pekat

Memecah kegalauan dengan langkah
tertatih

 

Merangkak dan kucengkeram warna
itu dengan perasaanku

Yang aku miliki dengan harga kemanusiaan

Sebesar mimpi

 

Tentangku senja itu

 

Jika ombak hanya datang untuk
menjilat bibir pantai dan menyisakan buih, aku tidak akan bercerita tentangmu
padanya. Aku hanya akan duduk disitu dan membiarkan mataku menikmati saat
semburat jingga itu makin samar dan akhirnya menghilang.

Aku tidak akan berkata sepatah
katapun. Disana hanya akan ada suara detak jantungku yang berpacu dengan suara
debur ombak yang memecah karang dan suara burung camar yang terbang lalu
bertengger di buritan kapal nelayan.

 Sampai mataku yang tadinya basah lalu mengering
aku tidak akan bercerita. Tidak juga kepada angin yang berbisik pelan di
telingaku, katakan padaku. Aku mengacuhkannya karena ku tahu ia akan pergi lagi
entah kemana.

Aku tidak akan tinggal. Aku akan
beranjak meninggalkan jejak-jejak kaki yang besok mungkin akan hilang terhapus
jejak-jejak lain. Mungkin oleh ombak, angin atau apapun yang membuat seolah aku
tak pernah ada disana.

 

 July
2008

 

Cinta itu bagaimana

Aku munafik kata mereka

Karena tak pernah kurasakan cinta

Bohong kata mereka

Tapi demikian adanya

 

Aku bertahan, cinta itu bagaimana?

Mereka menertawaiku

Mengolokku, meninggalkanku

 

Jadi

Kalau cinta itu ada

Aku pasti bahagia

Aku tidak lagi sendiri dan tak mungkin lagi aku bertanya

A FRIEND…

Makan_se_wajan



A  FRIEND

  • A friend is like a flower, a rose
    to be exact or maybe like a brand new gate, that never come
    unlatched.

  • A friend is like an owl, both
    beautiful and wise or perhaps like a ghost, whose spirit never dies.

  • A friend is like those blades of
    grass, you can mow, standing tall and proud in a perfect little now.

  • A friend is like a heart that goes
    strong until the end, where would be in this world if we didn’t
    have a friend.

  • I think friend is like sunshine
    after the rain, gave warm to those fragile heart. (my quote)

THINK WHITE!!

THINK WHITE!!

Whitebirdblackhead Percakapan dua orang sahabat di siang hari yang gerah.

Man 1: “Apa yang lo lakuin kalo lo lagi sebeeeell banget sama seseorang?”

Man 2:”Pengen gue cabik-cabik, gue timpuk, gue tonjok, gue injak-injak, gue cakar (emang macan?!), gue jambak, gue kata-katain sejadi-jadinya, kalo perlu gue tembak aja pakai revolver gue!!”

(Man 1 heran ngeliat sahabatnya, koq bisa-bisanya sahabatnya jadi emosional githu.)

Man 1:”Emang lo punya revolver?”

Man 2:”Kalo aja gue punya, tapi

kan

nggak! Lagian ngapain juga lo nanya-nanya hal gituan ke gue?”

Man 1:”Gue cuma pengen tahu aja, dan gue nggak nyangka lo jawabnya kaya gitu. Tapi beneran nggak sih kalo lo lagi sebel banget lo bakalan lakuin hal itu?”

Man 2:”Liat-liat sikonnya, kalo iblis lagi masuk ke tubuh gue, ya bisa-bisa aja kali gue ngelakuin hal itu.”

Man 1:”Jadi intinya, semua hal yang mengerikan yang mungkin aja lo lakuin bisa terjadi cuma kalo lo lagi dirasukin iblis githu?”

Man 2:”Ya iyalah..! Makanya gue harus jaga diri biar iblis jauh-jauh dari gue. Gue nggak mau gue akan nyakitin makhluk ciptaan Tuhan yang harusnya nggak berhak untuk gue sakitin”

Man 1:”Gimana caranya lo jaga diri?”

Man 2:”Jangan tanya sama gue. Tanya ma diri lo sendiri. Perlakuin orang lain sebagaimana lo pengen diperlakuin. Dan kalo lo tetep nggak bisa berhenti untuk berpikiran negative sama orang lain, lo cuma perlu nguji dia dengan berdoa ngebuang semua pikiran jahat lo. Pikiran yang negative bakalan berefek negative ke hidup lo dan sebaliknya.”

Man 1: (tadi aja nih anak emosian banget, sekarang cool banget!)

Percakapan di atas adalah percakapan dua orang pemuda berprofesi sebagai loper koran saat beristirahat siang di Lampu Merah Pasar Senen

Jakarta

. Saat itu penulis sedang nungguin teman di terminal Busway dari Kampung Rambutan. Hal yang membuat penulis tersenyum simpul, bisa-bisanya mendengar percakapan seperti itu di tengah kerasnya hidup di

kota

Jakarta

. Satu hal yang penulis sadari, nggak ada ruginya nungguin orang sampai bosan. J

Keep It hoT

Buku itu kubaca sampai habis seiring
dengan habisnya cappuccino di mug sinchanku. Ini sudah cappuccino
yang ke-3. tadinya aku pengen nambah dengan menyeduhnya dengan air
panas dari dispenser yang kubiarkan selalu “ON” biar aku nggak
repot-repot nunggu air itu jadi panas. Lagian aku butuh air hangat
buat minum kalo tiba-tiba haus (aku lebih suka air hangat). Aku sadar
sih itu pemborosan energi_aku harus berubah karena aku pendukung
“Stop Global Warming” n’ “Go Green”.

Sejak kuputusin untuk nggak nambah
cappuccino, aku kembali mikir. Dari dulu aku pengen banget nyiptain
gelas yang bisa bikin isi di dalamnya tetap hangat. Selama ini aku
selalu sebel, tiap kali nge-teh atau ngopi aku kan nggak bisa
langsung seruput sampe habis, jadi aku minumnya pelan-pelan. Itu dia
masalahnya, karena tak keburu habis, the atau kopi itu jadi cepat
dingin. Teh n’ Kopi kan nggak enak lagi kalo udah dingin, kalau mau
enak tambahin es aja sekalian.

Nah, aku emang nggak berusaha mikir
gimana caranya nyiptain gelas/cangkir seperti keinginanku itu, karena
itu benar-benar jauh dari kemampuanku yang pas-pasan banget untuk
berpikir, gimana caranya nyari bahan tahan panas n’ aman, gimana
caranya ngUkur temperature suhu di dalam n’ di luar gelas atau
gimana caranya bikin suhu benda cair alias isi gelas itu nggak
berubah jadi dingin.

Tuh kan, ternyata mentok!! Jadi cara
yang aku lakuin biar acara minum teh atau kopiku tetap enak adalah
menghabiskan teh/kopi itu selagi hangat, kalau mau lagi, yah tinggal
seduh saja! Aku benar-benar berharap suatu saat ada orang yang
berhasil menemukannya. ^_~)

ChEErs…

Sebuah nama yang bernama KEKECEWAAN membuat aku optimis menjalani hari-hari ini. Sebab karenanya lah aku menangis dan berusaha untuk tersenyum lagi.
Aku berterimakasih kepada SEMANGAT yang membuat kakiku kuat melangkah di tanah cadas, yang walaupun membuat telapakku sakit aku mampu tersenyum setelahnya. Karena itu semua, aku masih mampu menulis hari ini, inspirasi mengalir deras seperti aliran air yang tiada pernah berhenti mengucur melalui saluran-saluran air.
Aku sadar masih ada kata SYUKUR_syukur masih bisa bertahan hari ini dan aku harap untuk seterusnya, selamanya agar semua orang tahu aku kuat_kuat untuk melakukan apa yang aku anggap benar sampai akhirnya aku menang mencapai batas akhir.
Terimakasih untuk semua UNSUR di dunia ini, yang walaupun sedikit telah mempengaruhi langlah juangku. Iringilah terus langkah-langkah kakiku menuju mimpi itu. Mimpi yang sebelumnya hanya dapat kurasa menjadi dapat kurengkuh dalam dekapan.